<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Samudera Pengetahuan Islami</title>
	<atom:link href="http://almakmun.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://almakmun.com</link>
	<description>Hanya Ridho Ilahi Harapan Manusia</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Aug 2010 15:48:32 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Menggapai Lailatul Qadar</title>
		<link>http://almakmun.com/?p=451</link>
		<comments>http://almakmun.com/?p=451#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Aug 2010 15:48:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Makmun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ajaran Islam]]></category>
		<category><![CDATA[lailatul qadar]]></category>
		<category><![CDATA[malam kemuliaan]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almakmun.com/?p=451</guid>
		<description><![CDATA[Dalam bulan Ramadan, terdapat satu malam yang mempunyai banyak sekali keutamaan. Jika beramal di dalamnya, akan mendapat kebaikan melebihi kebaikan seribu bulan.
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَفِظْنَاهُ وَإِنَّمَا حَفِظَ مِنَ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dalam<strong> </strong>bulan Ramadan, terdapat satu malam yang mempunyai banyak sekali keutamaan. Jika beramal di dalamnya, akan mendapat kebaikan melebihi kebaikan seribu bulan<em>.</em></p>
<p style="text-align: justify;">حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَفِظْنَاهُ وَإِنَّمَا حَفِظَ مِنَ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ تَابَعَهُ سُلَيْمَانُ بْنُ كَثِيرٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ</p>
<p style="text-align: justify;">Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi Saw., bersabda, ”Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena Allah dan mengharap pahala dari Allah akan diampuni dosanya pada masa lampau dan siapa yang berjaga (tidak tidur) pada malam lailatul qadar dan melaksanakan ibadah karena Allah dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosanya pada masa lampau”.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>lailatul qadar</em> berasal dari kata <em>lailah</em> yang berarti malam dan <em>qadar</em> yang berarti ukuran. Keduanya disimpulkan menjadi ketentuan.</p>
<p style="text-align: justify;">Lailatul Qadar merupakan misteri. Betapa tidak kedatangannya tidak ada yang tahu kecuali Allah. Namun demikian, perlu kita melihat Hadis Nabi berikut ini:</p>
<p style="text-align: justify;">حَدَّثَنَا مُوسَى قَالَ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ يَحْيَى عَنْ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ انْطَلَقْتُ إِلَى أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ فَقُلْتُ أَلَا تَخْرُجُ بِنَا إِلَى النَّخْلِ نَتَحَدَّثُ فَخَرَجَ فَقَالَ قُلْتُ حَدِّثْنِي مَا سَمِعْتَ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ قَالَ اعْتَكَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ الْأُوَلِ مِنْ رَمَضَانَ وَاعْتَكَفْنَا مَعَهُ فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ إِنَّ الَّذِي تَطْلُبُ أَمَامَكَ فَاعْتَكَفَ الْعَشْرَ الْأَوْسَطَ فَاعْتَكَفْنَا مَعَهُ فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ إِنَّ الَّذِي تَطْلُبُ أَمَامَكَ فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطِيبًا صَبِيحَةَ عِشْرِينَ مِنْ رَمَضَانَ ُ</p>
<p style="text-align: justify;">Hadis tersebut meskipun memberitahukan kapan lailatul qadar datang. Namun yang perlu digaris bawahi adalah prosesnya. Dimana beliau sejak awal Ramadhan sampai akhir Ramadhan melaksanakan iktikaf.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari jilid 4/266, mengatakan bahwa hikmah disembunyikannya lailatul qadar, ialah agar timbul kesungguh-sungguhan dalam mencarinya. Berbeda jika malam qadar tersebut ditentukan, maka kesungguhan-sungguhan hanya sebatas pada malam tertentu itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sabda Nabi, “Semoga (dirahasiakannya waktu lailatul qadar itu) menjadi lebih baik bagi kalian.”</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hadits ini terdapat isyarat, bahwa malam itu tidak ditentukan. Para ulama menarik kesimpulan dari sabda Nabi, bahwa dirahasiakannya waktu lailatul qadar itu lebih baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Az-Zarqani dalam kitab Syarah Muwaththa&#8217;, bahwa Karena dirahasiakannya waktu lailatul qadar itu, menyebabkan orang tertuntut untuk melaksanakan qiyamul lail selama satu bulan penuh. Hal ini berbeda jika pengetahuan tentang waktunya dapat diketahui secara jelas.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sisi lain jumhur ulama mengatakan, &#8220;Hikmah dalam hal itu, agar seorang hamba bersungguh-sungguh dan memperbanyak amal pada tiap-tiap malam dengan harapan agar bertepatan dengan lailatul qadar. Berbeda jika lailatul qadar itu (telah) ditentukan. Maka, sungguh amal itu hanya akan diperbanyak (pada) satu malam saja, sehingga ia luput beribadah pada malam-malam lainnya atau berkurang.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Namun tidak sedikit diantara kita yang memahami bahwa lailatul qadar itu datang pada sepuluh malam terakhir khususnya di malam 27. Pemahaman seperti ini membuat banyak orang melampaui batas dalam berbuat taat pada malam ini. Anda bisa lihat, diantara mereka ada yang tidak tidur, bahkan tidak henti-hentinya shalat dengan memaksakan diri tanpa tidur. Bahkan mungkin ada sebagian yang shalat, lalu memperlama shalatnya, sementara dia berjuang keras melawan kantuknya. Dalam hal ini, satu sisi merupakan pelanggaran terhadap petunjuk Rasulullah yang melarang kita melakukan hal itu. Pada sisi lainnya, itu merupakan beban dan belenggu yang telah dihilangkan dari kita berkat karunia dan nikmat-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Meskipun pendapat yang rajih (terkuat), bahwa lailatul qadar ada pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dan dalil-dalil menguatkan, bahwasanya dia (lailatul qadar) adalah malam dua puluh tujuh, akan tetapi memastikannya dengan cara yang yakin merupakan perkara sulit.</p>
<p style="text-align: justify;">Betapapun arti dan hakikat lailatul qadar, yang jelas adalah bahwa Nabi memerintahkan umatnya untuk ”menemuinya”. Menurut Quraish Shihab, bahwa pertemuan dengannya bukan menunggu dengan tidak tidur sepanjang malam, karena jika demikian maka orang-orang yang tidak tidurlah yang akan memperoleh kebahagiaan. Menanti kehadirannya adalah dengan jalan beribadah, mendekatkan diri dengan Allah sambil menyadari dosa dan kelemahan kita dan apa yang harus dilakukan selama bulan Ramadhan. Hal tersebut bila dilakukan secara sadar, ikhlas dan berkesinambungan akan berbekas di dalam jiwa, sehingga menimbulkan kedamaian ketentraman dan dapat mengubah secara total sikap kejiwaan seseorang.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Strategi menggapai lailatul qadar</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Orang yang mendapatkan kemuliaan pada malam kemuliaan adalah mereka yang melakukan tahapan ibadah secara sempurna selama bulan Ramadhan. Menurut Zainun Kamal, pengajar Ilmu kalam UIN Syarif Hidayatullah, bahwa ulama membagi bulan Ramadhan menjadi:</p>
<p style="text-align: justify;">Sepuluh hari pertama dalam rangka melawan nafsu tiranni diri sendiri yang dikenal dengan sebutan <em>nafsun amaratu bissu&#8217;i</em>. Kalau manusia sudah dikuasai nafsu tirani ini, maka ia akan diperintah untuk melakukan kejahatan. Karena itu, manusia menjadi tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. &#8220;Kadang-kadang korupsi juga dianggap baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepuluh hari kedua, adalah perjuangan melawan nafsu <em>lawwamah</em> atau nafsu yang sudah tidak senang lagi melihat kejahatan dan dia sudah tenang melihat kebaikan. Manusia seringkali dihinggapi dengan perasaan senang melihat orang lain menderita. &#8220;Kebahagian <em>nafsullawwamah</em> terletak pada kebahagiaan orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada sepuluh hari ketiga, adalah nafsul <em>muthma&#8217;innah</em>. Jiwa yang tenang, tenteram dan damai. Ia mendapatkan semacam pencerahan pada sepuluh hari terakhir.</p>
<p style="text-align: justify;">Merasakan kehadiran lailatul qadar tidak menimbulkan rasa takabbur (sombong) tapi justru dengan kerendahan hatinya, <em>lailatul qodar</em> itu hadir dalam dirinya. &#8220;Orang itu tidak mungkin membeberkan kepada orang lain bahwa ia merasakan <em>lailatul qodar</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau dia mengemukakan itu maka ia takabbur dan itu bukanlah <em>lailatul qodar</em>.&#8221; dari sisi perilaku orang itu akan mengalami perubahan ke arah yang lebih baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang harus dilaukan selain kita memperbanyak hubungan langsung dengan Allah, kesalehan sosial juga harus diperhatikan. Semoga kita mendapatkan malam kemuliaan itu. Aaamiin</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://almakmun.com/?p=451" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almakmun.com/?feed=rss2&amp;p=451</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Untuk Calon Suamiku Nanti</title>
		<link>http://almakmun.com/?p=449</link>
		<comments>http://almakmun.com/?p=449#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Aug 2010 11:24:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Makmun</dc:creator>
				<category><![CDATA[renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almakmun.com/?p=449</guid>
		<description><![CDATA[Berikut ini merupakan note dari calon ibu dari anak-anak saya (almakmun). Semakin Sayang sama dia.
Assalamu&#8217;alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh&#8230;
Dear calon suamiku&#8230;
Apa kabarnya imanmu hari ini? Sudahkah harimu ini diawali dengan syukur karena dapat menatap kembali fananya hidup ini? Sudahkah air wudhu menyegarkan kembali ingatamu atas amanah yang saat ini tengah kau genggam?
Wahai Calon Suamiku&#8230;
Tahukah engkau betapa Allah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut ini merupakan note dari calon ibu dari anak-anak saya (almakmun). Semakin Sayang sama dia.</p>
<p style="text-align: justify;">Assalamu&#8217;alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh&#8230;</p>
<p>Dear calon suamiku&#8230;</p>
<p>Apa kabarnya imanmu hari ini? Sudahkah harimu ini diawali dengan syukur karena dapat menatap kembali fananya hidup ini? Sudahkah air wudhu menyegarkan kembali ingatamu atas amanah yang saat ini tengah kau genggam?</p>
<p>Wahai Calon Suamiku&#8230;</p>
<p>Tahukah engkau betapa Allah sangat mencintaiku dengan dahsyatnya? Disini aku ditempa untuk menjadi dewasa, agar aku lebih bijak menyikapi sebuah kehidupan dan siap mendampingimu kelak. Meskipun kadang keluh dan putus asa menyergapi, namun kini kurasakan diri ini lebih baik.Kadang aku bertanya-tanya, kenapa Allah selalu mengujiku tepat dihatiku. Bagian terapuh diriku, namun aku tahu jawabannya. Allah tahu dimana tempat yang paling tepat agar aku senantiasa kembali mengingat-Nya kembali mencintai-Nya. Ujian demi ujian Insya Allah membuatku menjadi lebih tangguh, sehingga saat kelak kita bertemu, kau bangga telah memiliki aku dihatimu, menemani harimu.</p>
<p>Calon suamiku&#8230;</p>
<p>Entah dimana dirimu sekarang. Tapi aku yakin Allah pun mencintaimu sebagaimana Dia mencintaiku. Aku yakin Dia kini tengah melatihmu menjadi mujahid yang tangguh, hingga akupun bangga memilikimu kelak.Apa yang kuharapkan darimu adalah kesalihan. Semoga sama halnya dengan dirimu. Karena apabila kecantikan yang kau harapkan dariku, hanya kesia-siaan yang dapati.Aku masih haus akan ilmu. Namun berbekal ilmu yang ada saat ini, aku berharap dapat menjadi isteri yang mendapat keridhaan Allah dan dirimu, suamiku.</p>
<p>Wahai calon suamiku&#8230;</p>
<p>Saat aku masih menjadi asuhan ayah dan bundaku, tak lain doaku agar menjadi anak yang solehah, agar kelak dapat menjadi tabungan keduanya di akhirat. Namun nanti, setelah menjadi isterimu, aku berharap menjadi pendamping yang solehah agar kelak disyurga cukup aku yang menjadi bidadarimu, mendampingi dirimu yang soleh.Aku ini pencemburu berat. Tapi kalau Allah dan Rasulullah lebih kau cintai daripada aku, aku rela. Aku harap begitu pula dirimu.Pernah suatu ketika aku membaca sebuah kisah; &#8220;Aku minta pada Allah setangkai bunga segar, Dia memberiku kaktus berduri. Aku minta kepada Allah hewan mungil nan cantik, Dia beri aku ulat berbulu. Aku sempat kecewa dan protes. Betapa tidak adilnya ini.Namun kemudian kaktus itu berbunga, sangat indah sekali. Dan ulatpun tumbuh dan beruba menjadi kupu-kupu yang teramat cantik. Itulah jalan Allah, indah pada waktunya. Allah tidak memberi apa yang kita inginkan, tapi Allah memberi apa yang kita butuhkan.&#8221;Aku yakin kaulah yang kubutuhkan, meski bukan seperti yang aku harapkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Calon suamiku yang di rahmati Allah&#8230;</p>
<p>Apabila hanya sebuah gubuk menjadi perahu pernikahan kita, takkan kunamai dengan gubuk derita. Karena itulah markas dakwah kita, dan akan menjadi indah ketika kita hiasi dengan cinta dan kasih.Ketika kelak telah lahir generasi penerus dakwah islam dari pernikahan kita, Bantu aku untuk bersama mendidiknya dengan harta yang halal, dengan ilmu yang bermanfaat, terutama dengan menanamkan pada diri mereka ketaatan kepada Allah SWT.Bunga akan indah pada waktunya. Yaitu ketika bermekaran menghiasi taman. Maka kini tengah kupersiapkan diri ini sebaik-baiknya, bersiap menyambut kehadiranmu dalam kehidupanku.Kini aku sedang belajar menjadi yang terbaik. Meski bukan umat yang terbaik, tapi setidaknya menjadi yang terbaik disisimu kelak.</p>
<p>Calon suamiku&#8230;</p>
<p>inilah sekilas harapan yang kuukirkan dalam rangkaian kata. Seperti kata orang, tidak semua yang dirasakan dapat diungkapkan dengan kata-kata. Itulah yang kini kuhadapi. Kelak saat kita tengah bersama, maka disitulah kau akan memahami diriku, sama halnya dengan diriku yang akan belajar memahamimu.</p>
<p>Wassalamu&#8217;alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh&#8230;<br />
&#8211;adek&#8230;</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://almakmun.com/?p=449" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almakmun.com/?feed=rss2&amp;p=449</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>I&#8217;tikaf pada Bulan Ramadhan</title>
		<link>http://almakmun.com/?p=446</link>
		<comments>http://almakmun.com/?p=446#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Aug 2010 16:31:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Makmun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ajaran Islam]]></category>
		<category><![CDATA[i'tikaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almakmun.com/?p=446</guid>
		<description><![CDATA[Iktikaf adalah berdiam diri di dalam masjid dengan niat ibadah. I&#8217;tikah lazim dilakukan sebagian umat Islam baik di bulan Ramadhan maupun di bulan-bulan lainnya. Namun demikian, ibadah yang satu ini kerap sekali dilakukan ketika bulan Ramadhan terutama di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan.
Dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa, Rasulullah Saw., pada bulan Ramadhan, melakukan iktikaf [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-447" title="itikaf" src="http://almakmun.com/wp-content/uploads/2010/08/itikaf.jpg" alt="itikaf" width="300" height="207" />Iktikaf adalah berdiam diri di dalam masjid dengan niat ibadah. I&#8217;tikah lazim dilakukan sebagian umat Islam baik di bulan Ramadhan maupun di bulan-bulan lainnya. Namun demikian, ibadah yang satu ini kerap sekali dilakukan ketika bulan Ramadhan terutama di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa, Rasulullah Saw., pada bulan Ramadhan, melakukan iktikaf pada sepuluh hari terakhir sampai akhir hayatnya, kemudian isteri-isteri beliau tetap melakukannya setelah kematian Rasulullah SAW. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis shahih pada kitab Shahih Muslim pada bab al-Iktikaf, no. 2006 :</p>
<p style="text-align: justify;">و حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ</p>
<p style="text-align: justify;">(Dari Qutaibah bin Sa&#8217;id dari Lais dari Uqail dari al-Zuhry dari Urwah dari Aisyah RA bahwa Nabi SAW I&#8217;tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan ramadhan sampai meninggal dunia, kemudian isteri-isterinya melakukannya setelah wafatnya).</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah melakukan I&#8217;tikaf setelah shalat subuh pada bulan Ramadhan. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis pada kitab Sunan al-Nasa&#8217;i pada bab al-Masajid, no. 702:</p>
<p style="text-align: justify;">أَخْبَرَنَا أَبُو دَاوُدَ قَالَ حَدَّثَنَا يَعْلَى قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ عَمْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْتَكِفَ صَلَّى الصُّبْحَ ثُمَّ دَخَلَ فِي الْمَكَانِ الَّذِي يُرِيدُ أَنْ يَعْتَكِفَ فِيهِ فَأَرَادَ أَنْ يَعْتَكِفَ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ فَأَمَرَ فَضُرِبَ لَهُ خِبَاءٌ وَأَمَرَتْ حَفْصَةُ فَضُرِبَ لَهَا خِبَاءٌ فَلَمَّا رَأَتْ زَيْنَبُ خِبَاءَهَا أَمَرَتْ فَضُرِبَ لَهَا خِبَاءٌ فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ آلْبِرَّ تُرِدْنَ فَلَمْ يَعْتَكِفْ فِي رَمَضَانَ وَاعْتَكَفَ عَشْرًا مِنْ شَوَّالٍ</p>
<p style="text-align: justify;">(Dari Abu Dawud dari Ya&#8217;la dari Yahya bin Sa&#8217;id dari Amrah dari Aisyah berkata bahwa Rasulullah jika mau melakukan I&#8217;tikaf shalat subuh terlebih dahulu, kemudian menempati tempat yang akan dijadikan I&#8217;tikaf, maka hal ini biasa dilakukan pada sepuluh hari terakhir pada bulan ramadhan, kemudian menyuruh membuat tenda, maka Hafsha menyuruh dibuatkan tenda, begitu juga Zainab, ketika Rasulullah melihat tenda-tenda itu bersabda : kebajikan yang engkau inginkan, jika tidak sempat iktikaf di bulan ramadhan, maka I&#8217;tikaflah pada sepuluh hari pada bulan Syawwal).</p>
<p style="text-align: justify;">Terdapat perbedaan pendapat antara Imam Syafi&#8217;i dengan Imam Malik dan Imam Abu Hanifah mengenai i&#8217;tikaf pada bulan Ramadhan. Menurut Imam Malik dan Imam Abu Hanifah I&#8217;tikaf harus dalam keadaan puasa. Namun menurut Imam Syafi&#8217;i tidak harus, karena hadis di atas menjelaskan bahwa Rasulullah memerintahkan isteri-isterinya agar i&#8217;tikaf pada 10 hari pada  bulan Syawwal juga. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab syarh Muslim linnawawi.</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://almakmun.com/?p=446" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almakmun.com/?feed=rss2&amp;p=446</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keistimewaan Bulan Ramadhan</title>
		<link>http://almakmun.com/?p=444</link>
		<comments>http://almakmun.com/?p=444#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Aug 2010 13:42:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Makmun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ajaran Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[lailatul qadar]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almakmun.com/?p=444</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Ramadhan merupakan bulan yang sangat berarti dan dinanti-nanti bagi semua umat Islam di seluruh penjuru dunia karena memiliki beberapa keistimewaan dibanding bulan-bulan lainnya. Keistimewaan-keistimewaan bulan Ramadhan adalah sebagai berikut:
Bulan dimana al-Qur&#8217;an pertama kali diturunkan 
Bulan Ramadhan merupakan bulan dimana al-Qur&#8217;an diturunkan untuk pertama kalinya, hal ini tercantum jelas di dalam surah al-Baqarah (2) ayat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Bulan Ramadhan merupakan bulan yang sangat berarti dan dinanti-nanti bagi semua umat Islam di seluruh penjuru dunia karena memiliki beberapa keistimewaan dibanding bulan-bulan lainnya. Keistimewaan-keistimewaan bulan Ramadhan adalah sebagai berikut:</p>
<p align="right"><strong>Bulan dimana al-Qur&#8217;an pertama kali diturunkan </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bulan Ramadhan merupakan bulan dimana al-Qur&#8217;an diturunkan untuk pertama kalinya, hal ini tercantum jelas di dalam surah al-Baqarah (2) ayat 185:</p>
<p>شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur&#8217;an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Berdasarkan ayat di atas, maka dapat diketahui bahwasanya al-Qur&#8217;an awal diturunkannya al-Qur&#8217;an adalah pada saat bulan Ramadhan. Disamping itu, dijelaskan pula bahwa tujuan al-Qur&#8217;an diturunkan adalah sebagai petunjuk (pedoman) hidup bagi  manusia, sebagai pengoreksi terhadap petunjuk yang  diselewengkan dari kitab suci sebelum al-Qur’an dan sebagai pembeda antara pendapat yang benar dengan pendapat yang salah.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Qur&#8217;an sebagai petunjuk atau pedoman hidup manusia, dimana didalamnya mengatur bagaimana seharusnya manusia menjalani kehidupannya sehari-hari. Hal ini dijelaskan di dalam surah al-A’la (87) ayat 1-3:</p>
<p>سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى(1)الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى(2)وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi, yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat di atas sangat jelas bahwa Allah menciptakan manusia tidak saja dilepaskan begitu saja, melainkan Allah memberikan sebuah petunjuk dan pedoman bagi ciptaan-Nya untuk menjalani hidupnya, sehingga hidupnya terarah dan bahagia.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan demikian, seyogyanya kita sebagai umat Islam senantiasa menggunakan al-Qur&#8217;an sebagaimana tujuan Allah menurunkannya. Jika tujuan-tujuan al-Qur&#8217;an sudah kita laksanakan nicaya manusia akan selamat dan mendapatkan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Selain itu, hendaknya kita tidak merasa puas jika sudah bisa membaca al-Qur&#8217;an, melainkan kita hendaknya terus dan terus mempelajari makna dan kandungan dari al-Qur&#8217;an terlebih-lebih ketika bulan Ramadhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat malam di bulan Ramadhan, membaca al-Qur&#8217;an seakan sudah menjadi tradisi di sekitar kita. Hal ini merupakan sebuah amalan yang amat bagus sebagaimana yang terjadi pada masa Rasulullah. Dimana di bulan Ramadhan malaikat jibril selalu datang setiap malam kepada Rasulullah SAW untuk <em>tadaruss</em> (memahami kembali) al-Qur&#8217;an. Hal ini dijelaskan dalam hadis shahih dalam kitab shahih al-Bukhari bab Bad&#8217;ul wahyi, no. 5 :</p>
<p>حَدَّثَنَا عَبْدَانُ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ أَخْبَرَنَا يُونُسُ عَنْ الزُّهْرِيِّ ح و حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ أَخْبَرَنَا يُونُسُ وَمَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ نَحْوَهُ قَالَ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ<strong> وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ </strong>فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ</p>
<p style="text-align: justify;">(Dari Abdan dari Abdullah dari Yunus dari al-Zuhry, juga dari Bisyr bin Muhammad dari Abdullah dari Yunus dan Muammar dari al-Zuhry dari Abdullah bin Abdullah dari Ibn Abbas berkata bahwa Rasulullah SAW manusia terbaik  ketika pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya setiap malam bulan Ramadhan dan mempelajari kembali al-Qur&#8217;an , maka Rasulullah SAW adalah orang segera melakukan kebaikan sebagaimana angin bertiup).</p>
<p align="right"><strong>Bulan Ramadhan adalah bulan dibukanya pintu ampunan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bulan Ramadhan adalah bulan dibukanya pintu ampunan bagi mereka yang melaksanakan  puasa Ramadhan. Hal ini dilambangkan  dengan dibukanya pintu langit (sebagai lambang dibukanya ampunan) dan ditutup pintu neraka serta dibelenggunya setan (sebagai lambang terbelenggunya hawa nafsu). Hal ini dijelaskan dalam Shahih al-Bukhari pada bab al-Shaum, no. 1766 :</p>
<p>حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنِي اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي ابْنُ أَبِي أَنَسٍ مَوْلَى التَّيْمِيِّينَ أَنَّ أَبَاهُ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ<strong> إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ</strong></p>
<p style="text-align: justify;">(Dari Yahya bin Bukair dari al-Lais dari &#8220;Uqail dari Ibn Syihab dari Ibn Abi Anas (maula al-Tamiyin bahwa bapaknya mendengar Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda : Jika memasuki bulan Ramadhan dibuka semua pintu langit dan ditutup pintu-pintu Jahannam dan dibelenggu para Setan).</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena dilandasai oleh iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya di masa lalunya. Hal ini dijelaskan dalam hadis shahih pada kitab shahih al-Bukhari pada bab Iman, no. 37 :</p>
<p>حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلاَمٍ قَالَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ<strong> مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ</strong></p>
<p style="text-align: justify;">(Dari Muhammad bin Salam dari Muhammad bin Fadhail dari Yahya bin Sa&#8217;id dari Abi Salamah dari Abi Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : &#8220;Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan niat karena Allah dan hanya mengharap pahala dari Allah, maka<em> </em>akan diampuni dosanya yang telah lalu).</p>
<p align="right"><strong>Terdapat Malam Kemuliaan (Lailatul Qadar)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Di bulan Ramadhan terdapat satu malam kemuliaan <em>(lailalatul qadr</em>), dimana nilai malam itu lebih dari seribu bulan, karena para malaikat dan malaikat Jibril diizinkan Allah turun ke langit bumi dan akan mengabulkan setiap permohonan manusia mulai terbenamnya matahari sampai terbit fajar. Sebagaimana ditegaskan dalam surah al-Qadar (97) ayat 1-5 :</p>
<p>إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ(1)وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ(2)لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ(3)تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ(4)سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ(5<strong>(</strong></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur&#8217;an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Surah di atas menjelaskan bahwa al-Qur’an diturunkan dari <em>lauh mahfudz </em>ke langit dunia pada malam <em>lailatul Qadr </em>atau malam kemuliaan. Kemudian menjelaskan bahwa Lailatul Qadr adalah suatu malam yang kebaikan atau perbuatan baik nilainya sama dengan seribu bulan.</p>
<p style="text-align: justify;">Para Malaikat dan Malaikat Jibril turun ke langit bumi untuk mengaminkan setiap do’a dari hamba Allah sampai terbit fajar (subuh). Pada malam lailatul Qadr Allah hanya menentukan keselamatan, tidak seperti hari-hari biasa yang selalu menentukan keselamatan dan kebinasaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun siapa yang berjaga (tidak tidur) pada malam lailatul qadar dan melakukan ibadah karena Allah dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu. Hal tersebut dijelaskan dalam hadis shahih pada kitab Shahih al-Bukhari pada bab al-Shaum, no. 1764 :</p>
<p>حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ<strong> مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ </strong>وَمَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِه</p>
<p style="text-align: justify;">(Dari Muslim bin Ibrahim dari Hisyam dari Yahya dari Abi Salamah dari Abi Hurairah berkata bahwa Nabi SAW bersabda : siapa yang berjaga (tidak tidur) pada malam lailatul qadar dan melaksanakan ibadah karena Allah dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosanya pada masa lampau, begitu juga siapa yang berpuasa karena Allah dan mengharap pahala dari Allah akan diampuni dosanya pada masa lampau).</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah   memerintahkan mencari malam lailatul Qadr pada hitungan ganjil pada 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis shahih pada kitab Shahih al-Bukhari dalam bab al-shalat al-Tarawih, no. 1878 :</p>
<p>حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا أَبُو سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ اْلأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ</p>
<p style="text-align: justify;">(Dari Qutaibah bin Sa&#8217;id dari Ismail bin Ja&#8217;far dari Abu Suhail dari bapaknya dari Aisyah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : &#8220;Carilah malam lailatul Qadr pada malam ganjil sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan)&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Rasulullah menjelaskan tanda datangnnya lailatul Qadr adalah ketika matahari terbit tanpa cahaya yang terang. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis shahih pada kitab Shahih Muslim dalam bab al-Shiyam, no. 1999 :</p>
<p>و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ كِلاَهُمَا عَنْ ابْنِ عُيَيْنَةَ قَالَ ابْنُ حَاتِمٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ عَبْدَةَ وَعَاصِمِ بْنِ أَبِي النَّجُودِ سَمِعَا زِرَّ بْنَ حُبَيْشٍ يَقُولاَ سَأَلْتُ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقُلْتُ إِنَّ أَخَاكَ ابْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُ مَنْ يَقُمْ الْحَوْلَ يُصِبْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَقَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ أَرَادَ أَنْ لاَ يَتَّكِلَ النَّاسُ أَمَا إِنَّهُ قَدْ عَلِمَ أَنَّهَا فِي رَمَضَانَ وَأَنَّهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ وَأَنَّهَا لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ ثُمَّ حَلَفَ لاَ يَسْتَثْنِي أَنَّهَا لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ فَقُلْتُ بِأَيِّ شَيْءٍ تَقُولُ ذَلِكَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ قَالَ بِالْعَلاَمَةِ أَوْ بِاْلآيَةِ الَّتِي أَخْبَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ <strong>أَنَّهَا تَطْلُعُ يَوْمَئِذٍ لاَ شُعَاعَ لَهَا</strong></p>
<p style="text-align: justify;">(Dari Muhammad bin Hatim dan Ibn Abi Umar  keduanya dari Ibn Uyainah al-Najud, maka berkata Ibn Uyainah dari Sufyan bin Uyainah dari Abdah dan Ashim bin Abi al-Najud dari  Zirrah bin Hubais, ia bertanya kepada Ubay bin Ka&#8217;ab bahwa saudaramu Ibn Mas&#8217;ud berkata bahwa siapa yang sepanjang malam Ramadhan melakukan ibadah, maka akan mendapatkan lailatul Qadr, agar manusia tidak hanya mengharapkan lailatul Qadr, meskipun ia mengetahui bahwa lailatul Qadr itu pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan tepatnya pada malam kedua puluh tujuh, maka ditanya apa tandanya, ia menjawab dengan tanda ketika paginya matahari terbit tanpa sinar yang terang sebagaimana diberitahukan oleh Rasulullah SAW).</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun do&#8217;a yang dibaca ketika menjumpai lailatul Qadr adalah :</p>
<p>اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي</p>
<p style="text-align: justify;">(Ya Allah, sungguh Engkau Maha Pemaaf dan Maha Mulia dan Maha Memaafkan, maka ampunilah aku).</p>
<p style="text-align: justify;">Hal tersebut dijelaskan dalam hadis shahih pada kitab Sunan al-Tirmizi dalam bab al-Daawat an Rasulillah, no. 3435 :</p>
<p>حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ الضُّبَعِيُّ عَنْ كَهْمَسِ بْنِ الْحَسَنِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِي <strong>اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي </strong></p>
<p style="text-align: justify;">(Dari Qutaibah dari Ja&#8217;far bin Sulaiman al-Dhaba&#8217;iy dari Khmas bin al-Hasan dari Abdillah bin Buraidah dari Aisyah berkata bahwa aku bertanya kepada Rasulullah SAW: &#8220;Apa yang aku ucapkan ketika mendapatkan malam Qadr, maka Rasulullah menjawab : Ucapkanlah : Ya Allah, sungguh engkau Maha Pemaaf dan Maha Mulia dan Maha Memaafkan, maka ampunilah aku)&#8221;.</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://almakmun.com/?p=444" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almakmun.com/?feed=rss2&amp;p=444</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terimakasih Allah</title>
		<link>http://almakmun.com/?p=442</link>
		<comments>http://almakmun.com/?p=442#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jul 2010 06:04:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Makmun</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almakmun.com/?p=442</guid>
		<description><![CDATA[Ya Allah ……
Puji syukur kupanjatkan untuk-Mu
Yang telah memberikan ilmu
Yang telah memberikan hidayah
Akan skenario-Mu
Engkau berikan yang terbaik untukku
Terima kasih Allah
Kau ganti bintangku yang hilang
Yang ditelan gelapnya malam
Yang hilang dimakan tebalnya kabut nan awan
Dengan indahnya bulan
Yang penuh pancaran cahaya kedamaian nan menentramkan
Penuh pancaran kesahajaan
Yang patuh dan taat mengiringi sang surya
Tiada terduga
Sang bulan mulai menampakkan wajahnya
Indah sinarnya menenteramkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ya Allah ……</p>
<p>Puji syukur kupanjatkan untuk-Mu</p>
<p>Yang telah memberikan ilmu</p>
<p>Yang telah memberikan hidayah</p>
<p>Akan skenario-Mu</p>
<p>Engkau berikan yang terbaik untukku</p>
<p style="text-align: center;">Terima kasih Allah</p>
<p style="text-align: center;">Kau ganti bintangku yang hilang</p>
<p style="text-align: center;">Yang ditelan gelapnya malam</p>
<p style="text-align: center;">Yang hilang dimakan tebalnya kabut nan awan</p>
<p style="text-align: center;">Dengan indahnya bulan</p>
<p style="text-align: center;">Yang penuh pancaran cahaya kedamaian nan menentramkan</p>
<p style="text-align: center;">Penuh pancaran kesahajaan</p>
<p style="text-align: center;">Yang patuh dan taat mengiringi sang surya</p>
<p>Tiada terduga</p>
<p>Sang bulan mulai menampakkan wajahnya</p>
<p>Indah sinarnya menenteramkan jiwa</p>
<p>Mengetuk pintu hati yang terdalam</p>
<p>Mengobati hati yang luka</p>
<p>Membangkitkan semangat</p>
<p>Memberi kekuatan dan inspirasi</p>
<p style="text-align: center;">Ya… Allah</p>
<p style="text-align: center;">Jauhkan kami dari sifat munafiq</p>
<p style="text-align: center;">Ridhoi hubungan kami</p>
<p style="text-align: center;">Naungi kami dengan Rahmat</p>
<p style="text-align: center;">Langgengkan hubungan kami</p>
<p style="text-align: center;">Tak hanya di dunia yang fana ini</p>
<p style="text-align: center;">Tapi juga kelak di akhirat yang abadi</p>
<p>Kuatkanlah kami berdua dalam menjalani hidup</p>
<p>Jagalah kami berdua dari segala salah</p>
<p>Kuatkanlah kami berdua dalam beribadah kepada-Mu</p>
<p>Senantiasa mengharapkan ridho-MU</p>
<p>Jadikanlah kami berdua hamba yang pandai bersyukur atas pemberian-Mu</p>
<p style="text-align: center;">Terima kasih ………</p>
<p style="text-align: center;">Terima kasih atas semua pemberian-Mu</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://almakmun.com/?p=442" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almakmun.com/?feed=rss2&amp;p=442</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Darimanakah Cinta</title>
		<link>http://almakmun.com/?p=440</link>
		<comments>http://almakmun.com/?p=440#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jul 2010 05:36:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Makmun</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almakmun.com/?p=440</guid>
		<description><![CDATA[Cinta &#8230;&#8230;
Meski kehadiranmu tak diundang
Kau tetap hadir ke dalam setiap jiwa
Damai, tentram nan tenang
Cinta &#8230;&#8230;.
Kedamaian alam karenamu
Kemesraan insan karenamu
Memberi hidup penuh arti nan makna
Dari mana datangnya cinta
Dari mata turun ke hatikah
Tidak dan tidak
Cinta berasal dari Sang Maha Mencintai
Cinta bersumber dari Sang Maha Lembut
Jika cinta berasal dari Sang Maha Mencintai nan Maha Lembut
Kenapa kau permainkan cinta
Kenapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Cinta &#8230;&#8230;</p>
<p style="text-align: left;">Meski kehadiranmu tak diundang</p>
<p style="text-align: left;">Kau tetap hadir ke dalam setiap jiwa</p>
<p style="text-align: left;">Damai, tentram nan tenang</p>
<p style="text-align: center;">Cinta &#8230;&#8230;.</p>
<p style="text-align: center;">Kedamaian alam karenamu</p>
<p style="text-align: center;">Kemesraan insan karenamu</p>
<p style="text-align: center;">Memberi hidup penuh arti nan makna</p>
<p style="text-align: center;">Dari mana datangnya cinta</p>
<p>Dari mata turun ke hatikah</p>
<p>Tidak dan tidak</p>
<p>Cinta berasal dari Sang Maha Mencintai</p>
<p>Cinta bersumber dari Sang Maha Lembut</p>
<p>Jika cinta berasal dari Sang Maha Mencintai nan Maha Lembut</p>
<p style="text-align: center;">Kenapa kau permainkan cinta</p>
<p style="text-align: center;">Kenapa kau buat ia jadi menyakitkan</p>
<p style="text-align: center;">Kau buat ia seolah mainan</p>
<p style="text-align: center;">Yang dapat kau permainkan kapan saja</p>
<p style="text-align: center;">Yang dapat kau buang kapan saja</p>
<p style="text-align: center;">Menyedihkan nan menyakitkan hati yang lain</p>
<p style="text-align: center;">Jika demikian &#8230;&#8230;</p>
<p>Jangan salahkan Tuhan jika marah kepadamu</p>
<p>Dengan balasan yang sepadan</p>
<p>Bahkan lebih dan lebih menyakitkanmu</p>
<p style="text-align: center;">Tuhan membenci setiap insan yang tak punya cinta</p>
<p style="text-align: center;">Yang mempermainkan cinta</p>
<p style="text-align: center;">Karena cinta berasal dari Tuhan</p>
<p style="text-align: center;">Jadikan ia manis nan menyenangkan</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://almakmun.com/?p=440" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almakmun.com/?feed=rss2&amp;p=440</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah Ketenangan Hakiki</title>
		<link>http://almakmun.com/?p=438</link>
		<comments>http://almakmun.com/?p=438#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Jul 2010 15:48:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Makmun</dc:creator>
				<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[hakikat ketenangan]]></category>
		<category><![CDATA[tenang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almakmun.com/?p=438</guid>
		<description><![CDATA[Tidak jarang kita merasa kurang puas atas sepeda yang kita miliki jika melihat orang lain menaiki motor. Merasa kurang puas atas motor yang kita miliki bila melihat orang lain megendarai mobil. Begitu juga banyak yang merasa kurang puas atas mobil yang dimilikinya ketika melihat mobil orang lain lebih bagus dan lebih mewah. Di samping itu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tidak jarang kita merasa kurang puas atas sepeda yang kita miliki jika melihat orang lain menaiki motor. Merasa kurang puas atas motor yang kita miliki bila melihat orang lain megendarai mobil. Begitu juga banyak yang merasa kurang puas atas mobil yang dimilikinya ketika melihat mobil orang lain lebih bagus dan lebih mewah. Di samping itu, tidak sedikit orang yang menghalalkan segala cara, tidak tenang dan bahkan bunuh diri karena merasa kurang puas atas apa yang ia miliki. Padahal jika kita sadar, kita ini tidak pernah membawa apa-apa ketika dilahirkan ke dunia ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Keresahan yang disebabkan ketidak puasan atas apa yang kita miliki salah satunya disebabkan oleh kurang bersyukur atau bahkan tidak mensyukuri nikmat Allah Swt. Dalam keseharian, syukur identik dengan terima kasih. Artinya ketika seseorang mendapatkan uang dari orang lain, maka ia akan berterima kasih kepadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam konteks ini syukur harus kita artikan dengan dua hal. <em>Pertama, </em>syukur berarti mengakui pemberi. Sehingga ketika kita mendapat gaji, diberi kesehatan, diberi kesempatan hidup, diberi keluarga bahagia nan harmonis, maka kita wajib dan harus berterima kasih kepada Allah Swt., yang telah memberikan semuanya dengan memperbanyak mengucapkan kalimah <em>hamdalah</em> (<em>al-Hamdulillah</em>).</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Kedua, </em>syukur berarti mengenali pemberian Allah Swt. Artinya, segala hal yang diberikan Allah Swt., kepada kita harus diartikan dan difahami sebagai <em>amanah</em> atau titipan yang nantinya akan dimintai pertanggung jawaban. Sehingga uang yang kita miliki, mobil atau kendaraan yang kita kendarai, rumah yang kita tinggali, dan kesehatan yang kita rasakan harus digunakan sesuai dengan ketentuan Allah Swt., dan harus didapat dengan cara yang wajar.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika seseorang bisa mempraktekkan syukur dalam hidupnya, maka ia tidak akan mengalami dua penyakit penyebab keresahan. <em>Pertama, </em>ia tidak akan iri hati. Bagaimana mungkin ia akan iri hati bila sejak awal meyakini bahwa kekayaan yang dimiliki orang lain semata-mata titipan Allah Swt., yang akan dimintai pertanggung jawaban. <em>Kedua, </em>ia tidak akan sombong. Bagaimana mungkin ia sombong, bila sejak awal ia meyakini bahwa harta yang dimilikinya pada dasarnya bukan miliknya, tetapi milik Allah Swt., yang dititipkan kepadanya. Dengan demikian, ia akan merasa tenang hidupnya, karena memiliki jiwa yang lapang dan memiliki akhlak yang baik dalam berinteraksi dengan sesama. Lebih jelasnya lagi, ia tidak akan termasuk golongan manusia yang oleh al-Qur’an disebut sebagaimana berikut.</p>
<p style="text-align: justify;">Artinya: &#8220;Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir&#8221;, (QS: al-Ma’arij, 19).</p>
<p style="text-align: justify;">Syukur akan mengikis dan menghilangkan kekikiran, karena syukur akan menyadarkan seseorang untuk menggunakan hartanya sesuai dengan perintah Allah. Syukur juga akan membuat seseorang tidak berkeluh kesah atas pemberian Allah Swt, karena syukur mengajarkan, bahwa Allah Swt., memiliki <em>Hak Prerogative</em> atas segala hal yang diberikan kepada hambanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di samping itu, kita harus belajar dari pengalaman umat-umat terdahulu yang diberi azab oleh Allah Swt., karena tidak bersyukur atas karunia yang diberikan kepada mereka. sebagaimana yang tertera dalam surat al-Nahl, 112:</p>
<p style="text-align: justify;">Artinya: &#8220;Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat&#8221;. (QS: al-Nahl, 112).</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://almakmun.com/?p=438" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almakmun.com/?feed=rss2&amp;p=438</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inilah Ketenangan Hakiki</title>
		<link>http://almakmun.com/?p=433</link>
		<comments>http://almakmun.com/?p=433#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Jul 2010 15:32:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Makmun</dc:creator>
				<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[ketenangan hakiki]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almakmun.com/?p=433</guid>
		<description><![CDATA[Manusia seringkali berhadapan dengan berbagai masalah dalam hidupnya. Problem hidup bisa datang dari keluarga, tempat kerja, lingkungan sekitar dan lain-lain. Akibatnya timbul kecemasan, ketakutan dan ketidaktenangan, bahkan tidak sedikit manusia yang akhirnya kalap sehingga melakukan tindakan-tindakan yang semula dianggap tidak mungkin dilakukannya. Ada yang melakukan kejahatan terhadap orang lain seperti banyak terjadi kasus pembunuhan termasuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Manusia seringkali berhadapan dengan berbagai masalah dalam hidupnya. Problem hidup bisa datang dari keluarga, tempat kerja, lingkungan sekitar dan lain-lain. Akibatnya timbul kecemasan, ketakutan dan ketidaktenangan, bahkan tidak sedikit manusia yang akhirnya kalap sehingga melakukan tindakan-tindakan yang semula dianggap tidak mungkin dilakukannya. Ada yang melakukan kejahatan terhadap orang lain seperti banyak terjadi kasus pembunuhan termasuk pembunuhan terhadap anggota keluarga sendiri, dan ada pula yang melakukan kejahatan terhadap diri sendiri seperti meminum minuman keras dan obat-obat terlarang hingga tindakan bunuh diri. Semoga kita dijauhkan dari perbuatan yang demikian, amin.</p>
<p style="text-align: justify;">Ingat! Ada satu hal yang tidak mereka rasakan, yaitu ketenangan hidup hakiki, bukan ketenangan sesaat dengan mengkonsumsi narkoba, pergi ke tempat-tempat hiburan, dan lain-lain. Untuk itu ketenangan jiwa yang hakiki merupakan faktor penting dalam mencapai kehidupan yang lebih bermakna, baik bagi keluarga, tetangga, bangsa, agama, dan diri kita sendiri. Dengan jiwa yang tenang kehidupan ini dapat dijalani secara teratur dan benar sebagaimana yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya. Untuk itu, secara tersurat, al-Qur’an menyebutkan beberapa kiat praktis, seperti dzikrullah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dzikrullah memiliki arti selalu ingat kepada Allah dengan menghadirkan nama-Nya di dalam hati dan menyebut nama-Nya dalam berbagai kesempatan. Bila seseorang menyebut nama Allah, ketenangan jiwa akan diperolehnya. Ketika berada dalam ketakutan lalu berdzikir dalam bentuk menyebut ta&#8217;awudz (mohon perlindungan Allah), dia menjadi tenang. Ketika berbuat dosa lalu berdzikir dalam bentuk menyebut kalimat istighfar atau taubat, dia menjadi tenang kembali karena merasa telah diampuni dosa-dosanya itu. Ketika mendapatkan kenikmatan yang berlimpah lalu dia berdzikir dengan menyebut hamdalah, maka dia akan meraih ketenangan karena dapat memanfaatkannya dengan baik dan begitulah seterusnya sehingga dengan dzikir, ketenangan jiwa akan diperoleh seorang muslim, Allah berfirman yang artinya:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tentram&#8221; (13:28).</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk mencapai ketenangan jiwa, dzikir tidak hanya dilakukan dalam bentuk menyebut nama Allah melalui lisan, tapi juga dzikir dengan hati dan perbuatan. Karena itu, seorang mu&#8217;min selalu berdzikir kepada Allah dalam berbagai kesempatan, baik duduk, berdiri maupun berbaring.</p>
<p style="text-align: justify;">Dzikir dengan hati membuat seseorang merasa selalu dekat dengan Allah, merasa diawasi, merasa tidak sendirian, dan merasa rendah diri. Sedangkan dzikir dengan perbuatan, dalam artian mempraktekkan dzikrullah dengan cara mengasihi sesama makhluk Allah, dan melestarikan lingkungan sebagai ciptaan Allah.</p>
<p style="text-align: right;">(tulisan ini pernah dimuat di majalah Amal Shaleh)</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://almakmun.com/?p=433" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almakmun.com/?feed=rss2&amp;p=433</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asmaul Khusna</title>
		<link>http://almakmun.com/?p=426</link>
		<comments>http://almakmun.com/?p=426#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jul 2010 07:24:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Makmun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[asmaul khusna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almakmun.com/?p=426</guid>
		<description><![CDATA[
Berikut ini adalah 99 nama Allah atau yang lebih dikenal dengan nama Asmaul Khusna.

Allah: Lafal yang Maha Mulia yang merupakan nama dari zat Ilahi yang Maha Suci serta wajib adanya yang berhak memiliki semua macam pujian dan sanjungan. Adapun nama-nama lain, maka setiap nama itu menunjukkan suatu sifat Tuhan yang tertentu dan oleh sebab itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-428 alignnone" title="Asmaul Khusna" src="http://almakmun.com/wp-content/uploads/2010/07/Asmaul-Khusna.JPG" alt="Asmaul Khusna" width="294" height="300" /></p>
<p>Berikut ini adalah 99 nama Allah atau yang lebih dikenal dengan nama Asmaul Khusna.</p>
<ol>
<li><strong>Allah</strong>: Lafal yang Maha Mulia yang merupakan nama dari zat Ilahi yang Maha Suci serta wajib adanya yang berhak memiliki semua macam pujian dan sanjungan. Adapun nama-nama lain, maka setiap nama itu menunjukkan suatu sifat Tuhan yang tertentu dan oleh sebab itu bolehlah dianggap sebagai sifat bagi lafal yang Maha Mulia ini (yakni Allah) atau boleh dijadikan sebagai kata beritanya.</li>
<li><strong>Ar-Rahmaan</strong>: Maha Pengasih, pemberi kenikmatan yang agung-agung, pengasih di dunia.</li>
<li><strong>Ar-Rahiim</strong>: Maha Penyayang, pemberi kenikmatan yang pelik-pelik, penyayang di akhirat.</li>
<li><strong>Al-malik</strong>: Maha Merajai, mengatur kerajaan-Nya sesuai dengan kehendak-Nya sendiri.</li>
<li><strong>Al-Qudduus</strong>: Maha Suci, tersuci dari segala cela dan kekurangan.</li>
<li><strong>As-Salaam</strong>: Maha Penyelamat, pemberi keamanan dan kesentosaan pada seluruh makhluk-Nya.</li>
<li><strong>Al-Mukmin</strong>: Maha Pemelihara keamanan, yakni siapa yang bersalah dari makhluk-Nya itu benar-benar akan diberi siksa, sedang kepada yang taat akan benar-benar dipenuhi janji-Nya dengan pahala yang baik.</li>
<li>Al-Muhaimin: Maha Penjaga, memerintah dan melindungi segala sesuatu.</li>
<li>Al-’Aziiz: Maha Mulia, kuasa dan mampu untuk berbuat sekehendak-Nya.</li>
<li>10.  Al-Jabbaar: Maha Perkasa, mencukupi segala kebutuhan, melangsungkan segala perintah-Nya serta memperbaiki keadaan seluruh hamba-Nya.</li>
<li> Al-Mutakabbir: Maha Megah, menyendiri dengan sifat keagungan dan kemegahan-Nya</li>
<li>Al-Khaalik: Maha Pencipta, mengadakan seluruh makhluk tanpa asal, juga yang menakdirkan adanya semua itu.</li>
</ol>
<p>13.  Al-Baari’: Maha Pembuat, mengadakan sesuatu yang bernyawa yang ada asal mulanya.</p>
<p>14.  Al-Mushawwir: Maha Pembentuk, memberikan gambaran atau bentuk pada sesuatu yang berbeda dengan lainnya. (Jadi Alkhaalik adalah mengadakan sesuatu yang belum ada asal mulanya atau yang menakdirkan adanya itu. Albaari’ ialah mengeluarkannya dari yang sudah ada asalnya, sedang Almushawwir ialah yang memberinya bentuk yang sesuai dengan keadaan dan keperluannya).</p>
<p>15.  Al-Ghaffaar: Maha Pengampun, banyak pemberian maaf-Nya dan menutupi dosa-dosa dan kesalahan.</p>
<p>16.  Al-Qahhaar: Maha Pemaksa, menggenggam segala sesuatu dalam kekuasaan-Nya serta memaksa segala makhluk menurut kehendak-Nya.</p>
<p>17.  Al-Wahhaab: Maha Pemberi, banyak kenikmatan dan selalu memberi karunia.</p>
<p>18.  Ar-Razzaaq: Maha Pemberi rezeki, membuat berbagai rezeki serta membuat pula sebab-sebab diperolehnya.</p>
<p>19.  Al-Fattaah: Maha Membukakan, yakni membuka gudang penyimpanan rahmat-Nya untuk seluruh hamba-Nya.</p>
<p>20.  Al-’Aliim: Maha Mengetahui, yakni mengetahui segala yang maujud ini dan tidak ada satu benda pun yang tertutup oleh penglihatan-Nya.</p>
<p>21.  Al-Qaabidh: Maha Pencabut, mengambil nyawa atau mempersempit rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya.</p>
<p>22.  Al-Baasith: Maha Meluaskan, memudahkan terkumpulnya rezeki bagi siapa yang diinginkan oleh-Nya.</p>
<p>23.  Al-Khaafidh: Maha Menjatuhkan, yakni terhadap orang yang selayaknya dijatuhkan karena akibat kelakuannya sendiri dengan memberinya kehinaan, kerendahan dan siksaan.</p>
<p>24.  Ar-Raafi’: Maha Mengangkat, yakni terhadap orang yang selayaknya diangkat kedudukannya karena usahanya yang giat yaitu yang termasuk golongan kaum yang bertakwa.</p>
<p>25.  Al-Mu’iz: Maha Pemberi kemuliaan, yakni kepada orang yang berpegang teguh pada agama-Nya dengan memberinya pertolongan dan kemenangan.</p>
<p>26.  Al-Mudzil: Maha Pemberi kehinaan, yakni kepada musuh-musuh-Nya dan musuh umat Islam seluruhnya.</p>
<p>27.   As-Samii’: Maha Mendengar.</p>
<p>28.   Al-Bashiir: Maha Melihat.</p>
<p>29.  Al-Hakam: Maha Menetapkan hukum, sebagai hakim yang memutuskan yang tidak seorang pun dapat menolak keputusan-Nya, juga tidak seorang pun yang kuasa merintangi kelangsungan hukum-Nya itu.</p>
<p>30.  Al-’Adl: Maha Adil, serta sangat sempurna dalam keadilan-Nya itu.</p>
<p>31.  Al-Lathiif: Maha Halus, yakni mengetahui segala sesuatu yang samar-samar, pelik-pelik dan kecil-kecil.</p>
<p>32.  Al-Khabiir: Maha Waspada.</p>
<p>33.  Al-Haliim: Maha Penghiba, penyantun yang tidak tergesa-gesa melakukan kemarahan dan tidak pula gegabah memberikan siksaan.</p>
<p>34.  Al-’Azhiim: Maha Agung, yakni mencapai puncak tertinggi dari keagungan karena bersifat dengan segala macam sifat kebesaran dan kesempurnaan.</p>
<p>35.  Al-Ghafuur: Maha Pengampun, banyak pengampunan-Nya kepada hamba-hamba-Nya.</p>
<p>36.  Asy-Syakuur: Maha Pembalas yakni memberikan balasan yang banyak sekali atas amalan yang kecil dan tidak berarti.</p>
<p>37.  Al-’Aliy: Maha Tinggi, yakni mencapai tingkat yang setinggi-tingginya yang tidak mungkin digambarkan oleh akal pikiran siapa pun dan tidak dapat dipahami oleh otak yang bagaimana pun pandainya.</p>
<p>38.  Al-Kabiir: Maha Besar, yang kebesaran-Nya tidak dapat diikuti oleh pancaindera atau pun akal manusia.</p>
<p>39.  Al-Hafiidz: Maha Pemelihara yakni menjaga segala sesuatu jangan sampai rusak dan goncang. Juga menjaga segala amal perbuatan hamba-hamba-Nya, sehingga tidak akan disia-siakan sedikit pun untuk memberikan balasan-Nya.</p>
<p>40.  Al-Muqiit: Maha Pemberi kecukupan, baik yang berupa makanan tubuh atau pun makanan rohani.</p>
<p>41.  Al-Hasiib: Maha Penjamin, yakni memberikan jaminan kecukupan kepada seluruh hamba-Nya. Juga dapat diartikan Maha Menghisab amalan hamba-hamba-Nya pada hari kiamat.</p>
<p>42.  Al-Jaliil: Maha Luhur, yang memiliki sifat-sifat keluhuran karena kesempurnaan sifat-sifat-Nya.</p>
<p>43.  Al-Kariim: Maha Pemurah, mulia hati dan memberi siapa pun tanpa diminta atau sebagai penggantian dari sesuatu pemberian.</p>
<p>44.  Ar-Raqiib: Maha Peneliti, yang mengamat-amati gerak-gerik segala sesuatu dan mengawasinya.</p>
<p>45.  Al-Mujiib: Maha Mengabulkan, yang memenuhi permohonan siapa saja yang berdoa pada-Nya.</p>
<p>46.  Al-Waasi’: Maha Luas, yakni bahwa rahmat-Nya itu merata kepada segala yang maujud dan luas pula ilmu-Nya terhadap segala sesuatu.</p>
<p>47.  Al-Hakiim: Maha Bijaksana yakni memiliki kebijaksanaan yang tertinggi kesempurnaan ilmu-Nya serta kerapian-Nya dalam membuat segala sesuatu.</p>
<p>48.  Al-Waduud: Maha Pencinta, yang menginginkan segala kebaikan untuk seluruh hamba-Nya dan pula berbuat baik pada mereka itu dalam segala hal-ihwal dan keadaan.</p>
<p>49.  Al-Majiid: Maha Mulia, yakni yang mencapai tingkat teratas dalam hal kemuliaan dan keutamaan.</p>
<p>50.  Al-Baa’its: Maha Membangkitkan, yakni membangkitkan para rasul, membangkitkan semangat dan kemauan, juga membangkitkan orang-orang yang telah mati dari masing-masing kuburnya nanti setelah tibanya hari kiamat.</p>
<p>51.  Asy-Syahiid: Maha Menyaksikan atau Maha Mengetahui keadaan semua makhluk.</p>
<p>52.  Al-Haq: Maha Haq, Maha Benar yang kekal dan tidak akan berubah sedikit pun.</p>
<p>53.  Al-Wakiil: Maha Memelihara penyerahan, yakni memelihara semua urusan hamba-hamba-Nya dan apa-apa yang menjadi kebutuhan mereka itu.</p>
<p>54.  Al-Qawiy: Maha Kuat, yaitu yang memiliki kekuasaan yang sesempurna-sempurna.</p>
<p>55.  Al-Matiin: Maha Kokoh atau Perkasa, yakni memiliki keperkasaan yang sudah sampai dipuncaknya.</p>
<p>56.  Al-Waliy: Maha Melindungi, yakni melindungi serta menertibkan semua kepentingan makhluk-Nya karena kecintaan-Nya yang sangat pada mereka itu dan pemberian pertolongan-Nya yang tidak terbatas pada keperluan mereka.</p>
<p>57.  Al-Hamiid: Maha Terpuji, yang memang sudah selayaknya untuk memperoleh pujian dan sanjungan.</p>
<p>58.  Al-Muhshi: Maha Penghitung, yang tidak satu pun tertutup dari pandangan-Nya dan semua amalan itu pun diperhitungkan sebagaimana wajarnya.</p>
<p>59.  Al-Mubdi’: Maha Memulai, yang melahirkan sesuatu yang asalnya tidak ada dan belum maujud.</p>
<p>60.  Al-Mu’iid: Maha Mengulangi, yakni menumbuhkan kembali setelah lenyapnya atau setelah rusaknya.</p>
<p>61.  Al-Muhyii: Maha Menghidupkan, yakni memberikan daya kehidupan pada setiap sesuatu yang berhak hidup.</p>
<p>62.  Al-Mumiit: Yang Mematikan, yakni mengambil kehidupan (ruh) dari apa-apa yang hidup, lalu disebut mati.</p>
<p>63.  Al-Hayyu: Maha Hidup, kekal pula hidup-Nya itu.</p>
<p>64.  Al-Qayyuum: Maha Berdiri sendiri, baik Dzat-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya. Juga membuat berdiri apa-apa yang selain Dia. Dengan-Nya pula berdiri langit dan bumi ini.</p>
<p>65.  Al-Waajid: Maha kaya, dapat menemukan apa saja yang diinginkan oleh-Nya, maka tidak membutuhkan pada suatu apa pun karena sifat kaya-Nya yang mutlak.</p>
<p>66.  Al-Maajid: Maha Mulia, (sama dengan nomor 49 yang berbeda hanyalah tulisannya. Ejaan sebenarnya nomor 49 Almajiid sedangkan nomor 66 ini Almaajid).</p>
<p>67.  Al-Waahid: Maha Esa.</p>
<p>68.  Ash-Shamad: Maha Dibutuhkan, yakni selalu menjadi tujuan dan harapan orang di waktu ada hajat keperluannya.</p>
<p>69.  Al-Qaadir: Maha Kuasa.</p>
<p>70.  Al-Muqtadir: Maha Menentukan.</p>
<p>71.  Al-Muqaddim: Maha Mendahulukan, yakni mendahulukan sebagian benda dari yang lainnya dalam perwujudannya, atau dalam kemuliaan, selisih waktu atau tempatnya.</p>
<p>72.  Al-Mu’akhir: Maha Mengakhirkan atau Membelakangkan.</p>
<p>73.  Al-Awwal: Maha Pertama, Dahulu sekali dari semua yang maujud.</p>
<p>74.  Al-Aakhir: Maha Penghabisan, Kekal terus setelah habisnya segala sesuatu yang maujud.</p>
<p>75.  Azh-Zhaahir: Maha Nyata, yakni menyatakan dan menampakkan wujud-Nya itu dengan bukti-bukti dan tanda-tanda ciptaan-Nya.</p>
<p>76.  Al-Baathin: Maha Tersembunyi, tidak dapat dimaklumi zat-Nya sehingga tidak seorang pun dapat mengenal zat-Nya itu.</p>
<p>77.  Al-Waaliy: Maha Menguasai, menggenggam segala sesuatu dalam kekuasaan-Nya dan menjadi milik-Nya.</p>
<p>78.  Al-Muta’aalii: Maha Suci, terpelihara dari segala kekurangan dan kerendahan.</p>
<p>79.  Al-Barru: Maha Dermawan, banyak kebaikan-Nya dan besar kenikmatan yang dilimpahkan-Nya.</p>
<p>80.  At-Tawwaab: Maha Penerima tobat, memberikan pertolongan kepada orang-orang yang bermaksiat untuk melakukan tobat lalu Allah akan menerimanya.</p>
<p>81.  Al-Muntaqim: Maha Penyiksa, kepada orang yang berhak untuk memperoleh siksa-Nya.</p>
<p>82.  Al-’Afuw: Maha Pemaaf, pelebur kesalahan orang yang suka kembali untuk meminta maaf pada-Nya.</p>
<p>83.  Ar-Ra-uuf: Maha Pengasih, banyak rahmat dan kasih sayang-Nya.</p>
<p>84.  Maalikulmulk: Maha Menguasai kerajaan, maka segala perkara yang berlaku di alam semesta, langit, bumi dan sekitarnya serta yang dibaliknya alam semesta itu semuanya sesuai dengan kehendak dan iradat-Nya.</p>
<p>85.  Dzuljalaali wal Ikraam: Maha Memiliki kebesaran dan kemuliaan. Juga zat yang mempunyai keutamaan dan kesempurnaan, pemberi karunia dan kenikmatan yang amat banyak dan melimpah ruah.</p>
<p>86.  Al-Muqsith: Maha Mengadili, yakni memberikan kemenangan pada orang-orang yang teraniaya dari tindakan orang-orang yang menganiaya dengan keadilan-Nya.</p>
<p>87.  Al-Jaami’: Maha Mengumpulkan, yakni mengumpulkan berbagai hakikat yang telah bercerai-berai dan juga mengumpulkan seluruh umat manusia pada hari pembalasan.</p>
<p>88.  Al-Ghaniy: Maha Kaya, maka tidak membutuhkan apa pun dari yang selain zat-Nya sendiri, tetapi yang selain-Nya itu amat membutuhkan kepada-Nya.</p>
<p>89.  Al-Mughnii: Maha Pemberi kekayaan yakni memberikan kelebihan yang berupa kekayaan yang berlimpah-limpah kepada siapa saja yang dikehendaki dari golongan hamba-hamba-Nya.</p>
<p>90.  Al-Maani’: Maha Membela atau Maha Menolak, yaitu membela hamba-hamba-Nya yang saleh dan menolak sebab-sebab yang menyebabkan kerusakan.</p>
<p>91.  Adl-Dlaar: Maha Pemberi bahaya, yakni dengan menurunkan siksa-siksa-Nya kepada musuh-musuh-Nya.</p>
<p>92.  An-Naafi’: Maha Pemberi kemanfaatan, yakni merata kebaikan yang dikaruniakan-Nya itu kepada semua hamba dan negeri.</p>
<p>93.  An-Nuur: Maha Bercahaya yakni menonjolkan zat-Nya sendiri dan menampakkan untuk yang selain-Nya dengan menunjukkan tanda-tanda kekuasaan-Nya.</p>
<p>94.  Al-Haadi: Maha Pemberi petunjuk, yaitu memberikan jalan yang benar kepada segala sesuatu agar langsung adanya dan terjaga kehidupannya.</p>
<p>95.  Al-Badii’: Maha Pencipta yang baru, sehingga tidak ada contoh dan yang menyamai sebelum keluarnya ciptaan-Nya itu.</p>
<p>96.  Al-Baaqii: Maha Kekal, yakni kekal hidup-Nya untuk selama-lamanya.</p>
<p>97.  Al-Waarits: Maha Pewaris, yakni kekal setelah musnahnya seluruh makhluk.</p>
<p>98.  Ar-Rasyiid: Maha Cendekiawan, yaitu memberi penerangan dan tuntunan pada seluruh hamba-Nya dan yang segala peraturan-Nya itu berjalan menurut ketentuan yang digariskan oleh kebijaksanaan dan kecendikiawanan-Nya.</p>
<p>99.  Ash-Shabuur: Maha Penyabar yang tidak tergesa-gesa memberikan siksaan dan tidak pula cepat-cepat melaksanakan sesuatu sebelum waktunya.</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://almakmun.com/?p=426" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almakmun.com/?feed=rss2&amp;p=426</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doa Sesudah Wudhu</title>
		<link>http://almakmun.com/?p=424</link>
		<comments>http://almakmun.com/?p=424#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jul 2010 07:08:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Makmun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Shalat dan Doa]]></category>
		<category><![CDATA[doa sesudah wudhu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://almakmun.com/?p=424</guid>
		<description><![CDATA[Apabila kita selesai melaksanakan wudhu, maka segeralah kita mengangkat tangan kita dan berdoa:
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي مِنْ الْمُتَطَهِّرِينَ
“Saya bersaksi tiada Tuhan Selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah hamda dan Rasul-Nya. Ya Allah, jadikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apabila kita selesai melaksanakan wudhu, maka segeralah kita mengangkat tangan kita dan berdoa:</p>
<p>أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي مِنْ الْمُتَطَهِّرِينَ</p>
<p>“Saya bersaksi tiada Tuhan Selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah hamda dan Rasul-Nya. Ya Allah, jadikan aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersih.”</p>
<p>Doa di atas diajarkan oleh Rasulullah Saw., sebagaimana yang diriwayatkan oleh Umar bin Khatab :</p>
<p>عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي مِنْ الْمُتَطَهِّرِينَ فُتِحَتْ لَهُ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://almakmun.com/?p=424" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://almakmun.com/?feed=rss2&amp;p=424</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
