Jangan Merasa Senang Jika Mendapat Pujian
من أكرمك إنما أكرم فيك جميل ستره. فالحمد لمن سترك ليس الحمد لمن أكرمك وشكرك
“Orang yang memuliakanmu (menghormatimu), sebenarnya dia itu hanya menghormati keindahan tutup Allah yang ada padamu.”
Siapa yang tak senang jika dipuji? Pasti bisa dipastikan semua orang baik anak kecil remaja maupun orang tua semuanya pasti senang jika mereka dipuji. Ketika seseorang dipuji, dan dihormati, ia akan jadi tersanjung dan hatinya menjadi berbunga-bunga. Begitu sebaliknya, jika seseorang itu tidak mendapat pujian dan bahkan diremehkan, maka hatinya berubah menjadi pedih, dongkol dan sakit. Dendam kesumat dan kebencian pun tak terelakkan timbul di dalam benaknya. Hal seperti ini tidak lain disebabkan karena adanya hawa nafsu. Kita tahu bahwa nafsu suka sekali dipuji dan disanjung-sanjung.
Hal seperti di atas tidak akan terjadi bagi orang yang tajam mata hatinya, Seandainya ia mendapatkan pujian lantaran dirinya mempunyai ilmu dibandingkan orang kebanyakan, maka justru ia tidak merasa disanjung atau dipuji. Kalaupun ia dihormati dan dihargai oleh orang lain, maka sedikitpun ia merasa tidak mulia. Mengapa? Karena, ia sadar dan menyadari bahwa segala pujian dan penghormatan yang dilontarkan orang kepadanya, sesungguhnya bukan untuk dirinya. Melainkan datangnya pujian itu disebabkan oleh tutup keindahan Allah yang melekat pada dirinya.
Ahli makrifat menyadari bahwa pujian yang dilontarkan kepadanya, pada hakikatnya adalah berpulang kepada Allah. Karena sesungguhnya ia hanyalah sebagai hamba yang faqir dan hina. Jika orang lain melihat dirinya mempunyai kelebihan, maka sebenarnya kelebihan itu tak lain dan tak bukan adalah dari Allah yang menutupi aib orang yang bersangkutan.
Dengan demikian, jangan berbangga dan jangan senang jika dipuji. Namun jika memang telah dipuji, maka kembalikan hati ini bahwa pujian dan penghormatan tadi hanyalah untuk Allah bukan untuk dirinya. Karena semua yang dimilikinya adalah bersumber dari Allah.

