Bagaimana Sebenarnya Gender Dalam Islam? (part 2)

Tuesday, March 9, 2010
By Muhammad Makmun

Kilas balik Wanita Pra Islam

Masa Mesopotamia

Subordinasi atas wanita Timur Tengah kuno tampaknya telah dilembagakan seiring dengan kebangkitan masyarakat perkotaan dan dengan kebangkitan Negara kuno khususnya. Bertolak belakang dengan teori-teori androsentris yang mengemukakan bahwa status sosial inferior wanita didasarkan pada biologi dan alam dan dengan demikian, sudah ada selama dimiliki manusia, bukti arkeologis menunjukkan bahwa wanita dihormati sebelum bangkitnya masyarakat perkotaan dan statusnya merosot seiring dengan munculnya pusat-pusat perkotaan dan negara kota. James Mellart dalam karyanya yang berjudul Catal Huyuk: A Neolithic Town in Anatolia menegaskan bahwa di Asia Kecil pada tahun 6000 SM. Pada zaman Neolitik ditemukan sebuah pemukiman yang kemudian dikenal dengan Catal Huyuk yang menggambarkan bahwa posisi wanita sangat tinggi dan dominan.

Tak hanya itu saja yang menyatakan bahwa posisi wanita pada zaman dahulu sangat tinggi, bukti lain adalah bahwa berbagai kebudayaan di seluruh Timur Tengah menghormati dewi-ibu dalam zaman neolitik, hingga millenium kedua sebelum masehi dibeberapa kawasan. Namun kemudian, hal tersebut disusul dengan adanya dominasi laki-laki atas wanita yang diakibatkan munculnya daerah-daerah kota yang semakin rumit dan saling berebut kekuasaan dengan jalan kekerasan dan perang yang mana hal tersebut membutuhkan banyak tenaga yang biasanya dimiliki oleh laki-laki, sehingga kemerosotan status wanita akhirnya diikuti oleh runtuhnya dewi-dewi dan bangkitnya dewa-dewa.

Walaupun ada subordinasi konseptual tegas atas wanita yang terkodifikasi di dalam hukum-hukum yang mengatur keluarga patriarchal, posisi wanita sebagai wakil dan dapat menikmati semua kekayaan dan status yang tinggi sehingga dapat mempengaruhi berbagai peristiwa dan memiliki kekuasaan real atas pria dan wanita dari lapisan rendah dan bahkan bisa muncul sebagai penguasa seperti Ratu Semiramis dari Babilon (824-810 SM.) dan Naqi’a (704-681 SM.).

Masa Timur Tengah Mediterania

Ide-ide mendasar bagi agama kristen – nilai instrinsik individu, keutamaan spiritual yang sama antara pria dan wanita, budak dan tuan, dan keunggulan perawan atas kepatuhan istri – dalam beberapa hal menumbangkan gagasan-gagasan yang mendasar bagi kekuasaan patriarkihi di zaman itu.

Masa Bizantine, Peran ekonomi aktif wanita mangandaikan keterlibatan umum dalam masayarakat dan interaksi yang jauh lebih besar dengan pria melebihi yang diyakini oleh para sarjana. Dengan demikian, realitas fungsional berbeda dari yang ideal. Ia menunjukkan bahwa wanita-wanita Bizantine bergerak aktif tidak hanya sebagai pengunjung pemandian, bidan dan dokter, melainkan juga sebagai seniman dan pedagang bahan makanan. Wanita juga terlibat dalam perdagangan jarak jauh.

Tags:

Leave a Reply