Bagaimana Sebenarnya Gender Dalam Islam? (part 3)
Wanita Perspektif Al-Qur’an
Secara ontologis, masalah-masalah substansial manusia tidak diuraikan panjang lebar dalam al-Qur’an. Yang ditekankan adalah eksistensi manusia sebagai hamba, sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Sebagaimana Firman Allah dalam surat al-An’am: 165:
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلاَئِفَ الأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ العِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ
Manusia adalah satu-satunya mahluk eksistensialis, karena hanya mahluk ini yang bisa naik turun derajatnya di sisi Tuhan, sekalipun manusia merupakan ciptaan terbaik tetapi tidak mustahil akan turun ke derajat “paling rendah” (lihat surat at-Tiin :4-5). Bahkan bisa rendah kedudukannya dari binatang (lihat dalam al-A’raf: 179).
Ukuran kemuliaan di sisi Tuhan adalah prestasi dan kualitas tanpa membedakan etnik dan jenis kelamin (sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Hujurat 13).
Al-Qur’an tidak menganut faham the second sex yang memberikan keutamaan kepada jenis kelamin tertentu atau the first ethnic, yang mengistimewakan suku tertentu. Jenis kelamin apapun dan suku manapun mempunyai potensi yang sama untuk menjadi ‘abid dan khalifah. (lihat dalam surat An-Nisa’ 123 dan an-Nahl 97).
Sosok ideal wanita muslimah diilustrasikan sebagai kaum yang mempunyai kemandirian politik (lihat dalam surah al-Mumtahanah: 12), seperti sosok ratu Balqis yang mempunyai kerajaan yang besar dan superpower (lihat dalam surah an-Naml : 23). Serta memiliki kemandirian ekonomi (lihat dalam surah an-Nahl : 97).
Al-Qur’an mengijinkan seorang wanita melakukan gerakan oposisi terhadap berbagai kerusakan yang ada dan saling menyampaikan kebenaran (Lihat dalam surah at-Taubah: 71). Bahkan al-Qur’an menyerukan perang kepada suatu negeri yang menindas kaum perempuan (lihat dalam surah an-Nisa’ : 75).
Secara normative al-Qur’an sangat tinggi dalam memandang wanita daripada kitab suci agama lain, begitu juga dengan penafsiran pertama di masa nabi Muhammad Saw., semua ide yang ada di dalam al-Qur’an diimplementasikan dalam kehidupan beliau.

