Sebuah Ketenangan Hakiki
Tidak jarang kita merasa kurang puas atas sepeda yang kita miliki jika melihat orang lain menaiki motor. Merasa kurang puas atas motor yang kita miliki bila melihat orang lain megendarai mobil. Begitu juga banyak yang merasa kurang puas atas mobil yang dimilikinya ketika melihat mobil orang lain lebih bagus dan lebih mewah. Di samping itu, tidak sedikit orang yang menghalalkan segala cara, tidak tenang dan bahkan bunuh diri karena merasa kurang puas atas apa yang ia miliki. Padahal jika kita sadar, kita ini tidak pernah membawa apa-apa ketika dilahirkan ke dunia ini.
Keresahan yang disebabkan ketidak puasan atas apa yang kita miliki salah satunya disebabkan oleh kurang bersyukur atau bahkan tidak mensyukuri nikmat Allah Swt. Dalam keseharian, syukur identik dengan terima kasih. Artinya ketika seseorang mendapatkan uang dari orang lain, maka ia akan berterima kasih kepadanya.
Dalam konteks ini syukur harus kita artikan dengan dua hal. Pertama, syukur berarti mengakui pemberi. Sehingga ketika kita mendapat gaji, diberi kesehatan, diberi kesempatan hidup, diberi keluarga bahagia nan harmonis, maka kita wajib dan harus berterima kasih kepada Allah Swt., yang telah memberikan semuanya dengan memperbanyak mengucapkan kalimah hamdalah (al-Hamdulillah).
Kedua, syukur berarti mengenali pemberian Allah Swt. Artinya, segala hal yang diberikan Allah Swt., kepada kita harus diartikan dan difahami sebagai amanah atau titipan yang nantinya akan dimintai pertanggung jawaban. Sehingga uang yang kita miliki, mobil atau kendaraan yang kita kendarai, rumah yang kita tinggali, dan kesehatan yang kita rasakan harus digunakan sesuai dengan ketentuan Allah Swt., dan harus didapat dengan cara yang wajar.
Ketika seseorang bisa mempraktekkan syukur dalam hidupnya, maka ia tidak akan mengalami dua penyakit penyebab keresahan. Pertama, ia tidak akan iri hati. Bagaimana mungkin ia akan iri hati bila sejak awal meyakini bahwa kekayaan yang dimiliki orang lain semata-mata titipan Allah Swt., yang akan dimintai pertanggung jawaban. Kedua, ia tidak akan sombong. Bagaimana mungkin ia sombong, bila sejak awal ia meyakini bahwa harta yang dimilikinya pada dasarnya bukan miliknya, tetapi milik Allah Swt., yang dititipkan kepadanya. Dengan demikian, ia akan merasa tenang hidupnya, karena memiliki jiwa yang lapang dan memiliki akhlak yang baik dalam berinteraksi dengan sesama. Lebih jelasnya lagi, ia tidak akan termasuk golongan manusia yang oleh al-Qur’an disebut sebagaimana berikut.
Artinya: “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir”, (QS: al-Ma’arij, 19).
Syukur akan mengikis dan menghilangkan kekikiran, karena syukur akan menyadarkan seseorang untuk menggunakan hartanya sesuai dengan perintah Allah. Syukur juga akan membuat seseorang tidak berkeluh kesah atas pemberian Allah Swt, karena syukur mengajarkan, bahwa Allah Swt., memiliki Hak Prerogative atas segala hal yang diberikan kepada hambanya.
Di samping itu, kita harus belajar dari pengalaman umat-umat terdahulu yang diberi azab oleh Allah Swt., karena tidak bersyukur atas karunia yang diberikan kepada mereka. sebagaimana yang tertera dalam surat al-Nahl, 112:
Artinya: “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat”. (QS: al-Nahl, 112).

